Selasa, 22 Januari 2013

Kerukunan Umat Beragama



               BAB I
           Pendahuluan

I.I Latar belakang

Manusia diciptakan dari berbagai suku , etnis , dan ras. Berbagai macam kelompok berbaur dalam kehidupan manusia. Berbagai macam Agama hidup dalam kehidupan manusia yang mengajarkan hidup bersama , saling bekerja sama , dan hidup dalam kerukunan. Kerukunan merupakan satu hal yang mencakup semua kehidupan manusia. Tanpa adanya kerukunan mustahil bagi manusia untuk hidup damai , tentram , aman , dan nyaman. Kehidupan manusia akan hancur apabila mereka tidak memiliki rasa toleransi dengan manusia lainnya terutama bagi mereka yang berbeda latar belakang. Oleh karena itu rasa toleransi dengan sesama manusia harus tumbuh dan hidup di dalam hati setiap manusia.

Kerukunan adalah suatu kata / istilah yang mempunyai makna damai , baik , tentram , dan aman dalam konteks hidup bersama dengan manusia lainnya. Di samping itu manusia harus bersepakat dengan perbedaan yang hidup di tengah manusia lainnya agar tidak menciptakan pertengkaran dan perselisihan. Bila hal itu sudah menjadi suatu kebutuhan manusia , maka manusia akan terus menjalakan kerukunan tersebut dan menjadi sesuatu yang didambakan oleh setiap manusia.

Oleh karena itu di dalam proses kehidupan manusia diperlukan pemahaman bagaimana cara hidup rukun dengan sesama manusia. Kita akan bisa hidup damai , aman , dan tentram minimal di lingkungan kita sendiri.


1.2 Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan kerukunan menurut beberapa ahli ?
2. Bagaimana cara atau perilaku manusia agar kerukunan dapat tercipta ?
3. Bagaimana pola hidup dan hubungan antar sesama manusia ?

1.3 Tujuan penulisan
             
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah

1.      Untuk mengetahui pengertian  kerukunan dari beberapa ahli
2.      Unuk mengetahui sikap atau perilaku manusia dalam kehidupan yang rukun

1.4 Manfaat Penulisan
          

            1.4.1 Manfaat Akademis
Dapat memberikan pengetahuan kepada mahasiswa , terlebih lagi untuk memahami tentang “ Kerukunan ” dalam kehidupan manusia

1.4.2 Manfaat Praktis
Dapat memberikan pemahaman baru tentang bagaimana perilaku manusia dalam menciptakan kehidupan yang rukun.

1.5 Metode Penulisan
Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka untuk mengambil data-data yang mendukung dari penulisan makalah ini.
           






BAB II

                                                                 PEMBAHASAN


2.1 Kerukunan
Kerukunan adalah istilah yang mempunai arti makna baik dan damai atau dalam arti lain hidup bersama dengan manusia lainnya dalam kehidupan yang damai , aman , tentram , dan bersepakat untuk tidak membuat pertengkaran atau perselisihan. Pertengkaran atau perselisihan sebenarnya sudah menjadi kodrat manusia dan akhirnya manusia membutuhkan suatu keadaan dalam kondisi damai / rukun.

Manusia ditakdirkan Tuhan sebagai mahkluk sosial yang membutuhkan hubungan dan interaksi sosial dengan manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial , manusia memerlukan pertolongan dari orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnuya , baik kebutuhan spiritual taupun material dan setiap agama mengajarkan untuk membantu sesama manusia waluapun manusia tersebut berbeda latar belakang , ras , atau etnis.

Jika di dalam kehidupan manusia tidak ada kerukunan dan saling toleransi , maka kehidupan manusia di bumi ini menjadi hancur karena manusia selalu membuat perselisihan dan pertengkaran yang akhirnya menjadi sebuah konflik universal.


2.2 Pesatuan
Secara bahasa persatuan diartikan sebagai gabungan (ikatan, kumpulan dan lain sebagainya), beberapa bagian yang sudah bersatu. Sedangkan rukun berarti baik, damai, tidak bertengkar. Kerukunan berarti sebagai hidup rukun, damai dan tidak bertengkar antara warga masyarakat.
Persatuan dan kerukunan sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab terciptanya persatuan dan kerukunan dalam suatu negara akan menjadikan rakyat nyaman dan tenteram dalam bekerja, menuntut ilmu, melaksanakan ajaran agama, melaksanakan pembangunan dan lain sebagaianya. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membina persatuan dan kerukunan.


2.3 Perilaku Persatuan dan Kerukuan dalam Kehidupan Sehari-hari

Penerapan perilaku persatuan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :
 
1. Kerukunan Umat Seagama
Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah bukan hanya untuk bangsa arab saja, melainkan untuk seluruh manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam

2. Kerukunan Antar Umat Beragama
Toleransi antar umat beragama telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rosulullah SAW kepada para shahabat dan seluruh umat-Nya. Misalnya pada masa selesai peranga badar, pasukan muslim telah berhasil menawan pasukan kafir, banyak para sahabat yang menginginkan tawanan tersebut dibunuh, namun kebijakan Rasul berbeda justru Rasul meminta agar tawanan-tawanan perang itu dibebaskan.
Agama Islam membolehkan umatnya untuk berhubungan denga pemeluk agama lain, bahkan toleransi antar umat beragama sangat dianjurkan oleh Rosulullah SAW.

Sikap toleransi antar umat beragama dapat ditunjukkan melalui :
1. Saling menghargai dan menghormati ajaran masing-masing agama
2. Menghormati atau tidak melecehkan simbol-simbol maupun kitab suci masing-masing agama.
3. Tidak mengotori atau merusak tempat ibadah agama oranga lain, serta ikut menjaga ketrtiban dan ketenangan kegiatan keagamaan

3. Kerukunan Umat Beragama dengan Pemerintah
Menurut istilah agama Islam pemerinth disebut ulil amri (yang memiliki kekuasaan atau mengurusi). Menurut ahli tafsir ulil amri adalah orang-orang yang memegang kekuasaan diantara mereka (umat Islam), yang meliputi pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin lainnya.
Islam mengajarkan kepada umatnya, bahwa mentaati pemerintah nilainya sama dengan mentaati Allah dan Rasulnya.


2.4  Pola Hubungan Masyarakat

Secara naluri bahwa manusia adalah makhuk yang mempunyai keinginan untuk hidup bermasyarakat, artinya setiap manusia punya keinginan untuk berkumpul dan mengadakan hubungan antara sesamanya. Di mana ada masyarakat di sana ada hukum (Ubi societas Ibi Ius) demikianlah ungkapan Cicero kira-kira 2.000 tahun yang lalu. Ungkapan yang sama juga pernah disebutkan oleh L. J. Van Apeldoorn, dalam versi lain ia menyatakan : “Recht is er over de gehele wereld, overal, waar een samenleving vanmensen is” (hukum terdapat di dalam setiap masyarakat manusia, betapapun sederhananya masyarakat tersebut). Sesuai dengan ungkapan Cicero dan L. J. Van Apeldoorn tersebut, seiring dengan kondisi sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat yang ada.

Kumpulan atau persatuan manusia yang saling mengadakan hubungan satu sama lain itu dinamakan “masyarakat”. Jadi masyarakat terbentuk apabila dua orang atau lebih hidup bersama, sehingga dalam pergaulan hidup mereka timbul berbagai hubungan atau pertalian yang mengakibatkan mereka saling mengenal dan saling mempengaruhi

Bagaimanapun sederhananya dan moderennya masyarakat tersebut, sangat signifikan adanya norma, maka norma tetap sebagai suatu yang mutlak harus ada pada masyarakat. Untuk itu, norma hukum maupun norma lainnya dalam masyarakat tujuannya untuk keseimbangan, keserasian dan kesejahteraan hubungan-hubungan manusia dam masyarakat.

Sedangkan menurut Kuncoro Ningrat, dalam karyanya yang berjudul, Antropologi Sosial, menyebutkan bahwa untuk membedakan komunitas yang satu dengan yang lainnya selain berdasarkan kenyataan perbedaan yang ada, lebih ditentukan oleh sentimen persatuan masing-masing kelompok atau komunitas.

Kemudian, untuk menindak lanjuti dari pendapat Kuncoro Ningrat di atas, dalam hal ini sangat penting untuk membicarakan tentang pola hubungan masyarakat, sebab sangat terkait dengan apa yang disebut interkasi sosial. Interaksi tersebut merupakan faktor utama dalam kehidupan masyarakat, bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan proses sosial), oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. interkasi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, anatar kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.

Berlangsungnya suatu interaksi didasrakan pada berbagai faktor, antara lain faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Bila ditinjau secara lebih dalam maka faktor imitasi misalnya, mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interkasi sosial



2.5  Pola Hidup Beragama Masyarakat

Untuk mengetahui pengaruh agama terhadap masyarakat, ada tiga aspek yang sangat siknifikan untuk dikatahui, yaitu kebudayan, sistem sosial, dan kepribadian. Ketiga aspek itu merupakan fenomena sosial yang kompleks dan terpadu yang pengaruhnya dapat diamati pada perilaku manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, Nottingham menjelaskan secara umum tentang hubungan agama dengan masyarakat yang menurutnya terbagi kaepada tiga tipa, kondisi tipe tersebut nampaknya mengikuti konsep Agus Komte tentang proses tahapan pembentukan masyarakat.

Bila dilihat dari struktur sosial masyarakat, acapkali dibedakan antara dua macam persoalan yang meyangkut pola hidup beragama masyarakat yaitu antara masalah masyarakat ansich (scientifis or social problems). Dengan problem sosial (ameliorative or social problems). Yang pertama menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat. Sedangkan yang kedua meneliti gejala-gejala abnormal masyarakat dengan maksud untuk memperbaiki atau bahkan untuk menghilangkannya.

Sangat urgen kiranya tinjauan ini, artinya disoroti dalam lingkup kaijian sosiologi yang notabenenya meyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataan-kenyataan kehidupan kemasyarakatan. Sedangkan proses lanjutannya merupakan bagian dari perekerjaan sosial (social work). Dengan perkataan lain, berusaha untuk memehami kekuatan-kekuatan dasar yang berada di belakang tata kelakuan sosial.









   BAB III
              
             PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Dari pembahasan di bab II dapat diambil kesimpulan bahwa manusia merupakan mahkluk sosial yang membutuhkan pertolongan dari manusia lainnya dan manusia membutuhkan interaksi dengan sesame manusia lainnya agar dapat menjalani kehidupannya. Oleh karena itu dalam kehidupan antar sesama umat manusia memerlukan kerukunan , kedamaian , dan sikap saling toleransi  agar kehidupan manusia dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya konflik ( terutama konfik agama ) yang seharusnya tidak perlu terjadi.


1 komentar:

  1. kawan, karena kita sudah mulai memasuki mata kuliah softskill akan lebih baik jika blog ini disisipkan link Universitas Gunadarma yang merupakan identitas kita sebagai mahasiswa di Universitas Gunadarma juga sebagai salah satu kriteria penilaian mata kuliah soft skill seperti

    - www.gunadarma.ac.id
    - www.studentsite.gunadarma.ac.id
    - www.baak.gunadarma.ac.id

    untuk info lebih lanjut bagaimana cara memasang RSS , silahkan kunjungi link ini
    http://hanum.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5

    BalasHapus